Rest In Peace – Kus Bram

Mengenang Kus Bram, komikus Indonesia yang dikenal melalui karya Labah-Labah Merah, serta dokumentasi kenangan bersama keluarga, sahabat, dan komunitas cergam Indonesia.
05 Mei 2026 Ditulis oleh Anjaya Books 4 menit baca Belum ada komentar

Selamat Jalan Opa Kus Bram

Di saat warga Jakarta sedang berhitung cepat atau quick count untuk menentukan pemenang Pilkada, seorang seniman kesohor asli bumi Parahyangan, Kus Bram, dipanggil ke haribaan Yang Maha Kuasa pada usia 75 tahun.

Pada hari-hari terakhirnya, Opa Kus Bram baru saja kembali dari ibadah umroh. Setelah beberapa hari berada di kediamannya, kondisi stamina beliau menurun. Pemeriksaan awal menunjukkan beberapa gangguan kesehatan, mulai dari kolesterol, gula darah yang cukup tinggi, hingga hipertensi.

Kebiasaan menyantap daging kambing dan jeroan, yang tidak banyak dikurangi saat usia semakin senja, diduga ikut memengaruhi kondisi kesehatannya. Olahraga jalan kaki memang kerap dilakukan, namun belum cukup mengimbangi asupan tinggi kalori yang masuk.

Praktis setelah menyelesaikan komik strip berjudul Nusantara, pesanan Bumilangit, kegiatan Opa Kus di Bandung lebih banyak dihabiskan bersama keluarga. Semangatnya untuk membuat komik masih tinggi, meskipun upaya berkarya mulai terkendala oleh kondisi fisik yang tidak lagi sekuat dahulu.

Salah satu karya yang sempat direncanakan tampil dengan kostum baru adalah Lamer Reborn. Namun hingga akhir hayatnya, rencana tersebut belum terealisasi secara penuh.

Dokumentasi dan Kenangan Bersama Kus Bram

Penulis berkesempatan ikut mengunjungi kediaman beliau di Bandung bersama teman-teman Tjergam.com, yang saat itu juga mengunjungi Opa Kus di rumah.

Kebiasaan baik yang sering dilakukan beliau semasa hidupnya sebagai seniman komik adalah menjaga komunikasi yang intens dengan para penggemarnya. Tidak jarang beliau mengirimkan cenderamata kepada penggemarnya, mulai dari bolpoin, drawing pen, mini artwork, buku, atau apa pun yang menurutnya pantas untuk diberikan.

Hal itu dilakukan sampai akhir hayatnya. Menurut beliau, pembaca adalah bagian penting dari perjalanan seorang komikus.

“Ya karena bapak bisa seperti ini, dikenal orang sebagai komikus karena mereka adalah pembaca setia karya bapak.”

Di antara teman-teman komikus Bandung, Opa Kus dikenal sebagai lelaki yang sangat berkarakter dan berpendirian teguh. Ia tidak pandai berpura-pura dan selalu mengatakan apa adanya. Jika ada rekan sesama seniman meminta nasihat atau pendapatnya sebagai senior, ia kerap memberi penilaian secara jujur.

Namun, sejelek apa pun sebuah karya, beliau tetap menegaskan bahwa karya seni patut diapresiasi. Itulah salah satu sikap yang dikenang dari Opa Kus.

Karya dan Kedekatan dengan Penggemar

Salah satu karya yang lekat dengan nama Kus Bram adalah Labah-Labah Merah. Bagi pembaca komik klasik Indonesia, karya tersebut menjadi bagian dari sejarah cergam lokal dan dunia tokoh jagoan Indonesia.

Keinginannya membubuhkan paraf pada buku Iblis Peminum Darah, yang baru saja dirilis ulang oleh teman-teman Tjergam.com, sebenarnya merupakan ide dari almarhum sendiri. Alasannya sederhana: beliau ingin selalu dekat dan kembali menyapa para penggemarnya, sehingga tali silaturahmi tetap terjaga.

Setelah kembali dari ibadah umroh, baru beberapa hari berada di rumah, beliau kemudian harus menjalani perawatan. Sempat pulang beberapa hari, namun kemudian kembali masuk opname di ICU RS Kawaluyan, Kota Parahyangan, sampai akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Beberapa rekan sempat menjenguk beliau, meskipun sebagian tidak sempat berbincang langsung karena keterbatasan ruangan dan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk menerima banyak tamu.

Hari Rabu sore, sekitar pukul 16.00, dikabarkan bahwa Opa Kus telah tiada. Beliau berpulang dengan tenang, memasuki alam keabadian, menghadap Allah SWT.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Beliau meninggalkan tiga putri dan seorang putra: Mbak Leila, Mbak Lidia, Mbak Fajar, dan Mas Dadi.

Selamat jalan, Opa Kus. Doa dari kami, para penggemar karya komik Opa Kus yang telah menikmati karya-karya beliau sejak masa kecil hingga hari ini, selalu menyertai Opa menuju Sang Khalik.

Jenazah dimakamkan di pemakaman umum Sadarmanah, Gang Keramat Leuwigajah.

Selamat Jalan, Opa Kus

Kus Bram telah berpulang, tetapi karya dan kenangannya tetap hidup dalam ingatan keluarga, sahabat, kolektor, pembaca, dan komunitas komik Indonesia.

Namanya layak dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang cergam Indonesia. Melalui karya, sikap, dan kedekatannya dengan para pembaca, Opa Kus meninggalkan jejak yang tidak mudah dilupakan.

Selamat jalan, Opa Kus Bram. Doa kami menyertai.


Catatan sumber:
Artikel ini ditulis ulang oleh Anjaya Books berdasarkan informasi dari Tjergam.com, artikel “Rest In Peace – Kus Bram” oleh Bunga Bangsa

Artikel Terkait