Oleh: Donny Anggoro
Dalam sejarah panjang komik Indonesia, nama Put On memiliki tempat yang sangat penting. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu komik strip awal Indonesia yang hadir jauh sebelum komik-komik modern berkembang seperti sekarang.
Put On diciptakan oleh Kho Wan Gie, komikus yang juga dikenal dengan nama pena Sopoiku. Melalui karakter Put On, Kho Wan Gie menghadirkan tokoh sederhana, lucu, dan sering tertimpa kesialan, tetapi tetap terasa dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kho Wan Gie dan Lahirnya Put On
Kho Wan Gie lahir di Indramayu pada Agustus 1908 dan wafat di Jakarta pada tahun 1983. Selain dikenal sebagai komikus, ia juga disebut sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan dunia seni dan musik.
Karakter Put On pertama kali muncul pada 17 Januari 1931 di harian Sin Po. Sejak saat itu, Put On menjadi salah satu bacaan hiburan yang dikenal oleh masyarakat pembaca pada masanya.
Nama Put On kerap diartikan sebagai “Si Gelisah” atau sosok yang hidupnya selalu dirundung nasib kurang beruntung. Justru dari kemalangan itulah kelucuan dan daya tarik karakter ini muncul.
Tokoh Kecil di Tengah Kehidupan Kota
Put On digambarkan sebagai orang biasa yang hidup sederhana di tengah kehidupan kota. Ia berbicara dengan langgam Melayu peranakan dan dialek Jakarta, sehingga suasana sosial pada masa itu terasa kuat dalam setiap kisahnya.
Kelucuan Put On tidak hanya berasal dari tingkah lakunya, tetapi juga dari situasi yang ia hadapi. Ia sering menjadi korban keadaan, aturan yang membingungkan, atau nasib sial yang datang bertubi-tubi.
Karena itu, Put On tidak hanya dapat dibaca sebagai komik humor, tetapi juga sebagai potret sosial ringan dari kehidupan masyarakat pada zamannya.
Fenomena dalam Komik Strip Indonesia
Put On menjadi fenomenal karena hadir sebagai karya komik strip lokal yang terbit secara rutin di media massa besar pada masanya. Dalam konteks sejarah komik Indonesia, kehadirannya menjadi penanda penting bahwa komik lokal telah tumbuh sejak masa awal penerbitan surat kabar modern di Indonesia.
Popularitas Put On juga bertahan lama. Serial ini disebut memiliki perjalanan panjang hingga puluhan tahun, sebuah pencapaian yang sangat jarang dalam sejarah komik Indonesia.
Selain Put On, Kho Wan Gie juga menciptakan sejumlah karakter dan karya lain, seperti Si Pengky, Nona A Gogo, Jali Tokcer, dan Si Lemot. Namun, Put On tetap menjadi nama yang paling lekat dengan warisan kreatifnya.
Bahasa Lama dan Tantangan Pembaca Masa Kini
Salah satu daya tarik Put On adalah penggunaan bahasa Melayu peranakan dan ejaan lama. Bagi pembaca masa kini, gaya bahasa ini mungkin terasa asing. Namun, justru di situlah nilai historisnya.
Bahasa yang digunakan dalam Put On membawa pembaca masuk ke suasana zaman ketika komik tersebut pertama kali terbit. Ia menyimpan jejak sosial, budaya, dan bahasa masyarakat urban Indonesia pada masa itu.
Karena itu, penerbitan ulang karya seperti Put On sebaiknya dilengkapi dengan catatan atau penjelasan agar pembaca generasi sekarang dapat memahami konteks bahasa dan kelucuannya dengan lebih baik.
Penerbitan Ulang dan Upaya Merawat Sejarah
Pada akhir 2000-an, Put On kembali diperkenalkan kepada pembaca melalui penerbitan ulang oleh Pustaka Klasik. Langkah ini penting karena banyak karya komik lama Indonesia sulit ditemukan, hanya tersimpan di tangan kolektor atau disebut dalam tulisan sejarah komik.
Penerbitan ulang Put On menjadi bagian dari usaha merawat ingatan terhadap karya-karya maestro komik Indonesia. Walaupun dokumentasi karya lama sering menghadapi berbagai kendala, usaha seperti ini tetap patut dihargai.
Warisan Put On untuk Komik Indonesia
Put On bukan hanya komik lucu tentang orang yang selalu sial. Ia adalah salah satu jejak awal komik strip Indonesia, sekaligus bukti bahwa tradisi komik lokal sudah tumbuh sejak masa surat kabar menjadi media utama masyarakat.
Melalui Put On, Kho Wan Gie memperlihatkan bahwa komik dapat menjadi hiburan, catatan sosial, sekaligus cermin kehidupan sehari-hari. Tokoh yang sederhana dan sering malang itu justru menjadi bagian penting dari sejarah budaya populer Indonesia.
Mengenang Put On berarti mengenang salah satu fondasi awal komik Indonesia. Dari sosok “Si Malang” yang jenaka ini, kita dapat melihat bagaimana komik Indonesia telah memiliki akar yang panjang, kaya, dan layak terus diperkenalkan kepada generasi baru.
Rawamangun, Juli 2009 * pencinta komik, tinggal di Jakarta.
Sumber: kompas.com
Catatan sumber: Artikel ini ditulis ulang oleh Anjaya Books berdasarkan informasi dari TJERGAM dan Kompas.com mengenai Put On, Kho Wan Gie / Sopoiku, serta sejarah awal komik strip Indonesia.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.